<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280</id><updated>2009-06-10T20:35:47.563-07:00</updated><title type='text'>rofii-perspektif</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280.post-915419486859828098</id><published>2009-06-02T21:41:00.000-07:00</published><updated>2009-06-05T21:40:04.615-07:00</updated><title type='text'>Solidaritas Untuk Prita Mulyasari</title><content type='html'>&lt;h1 style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"  class="judul_artikel"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tangisan Ananta untuk Bunda Prita&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;     &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"  class="jam_artikel"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Senin, 01 Juni 2009 | 10:46 WIB&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" &gt;   &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;img src="http://image.tempointeraktif.com/?id=12001" alt="prita" width="274" align="left" height="252" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h1 style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"  class="judul_artikel"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Membaca berita mengenai ibu Prita, memang membuat kita sedih, mengingat dua anak yang ditinggalkannya masih balita. Di Facebook, blog, dan media jaringan sosial lainnya kita tidak henti-hentinya mengharapkan pihak-pihak terkait untuk bisa menyelesaikan persoalan ini dengan kepala dingin, secara damai dan kekeluargaan. Jalur hukum tidak selalu membawa kebaikan bagi semua. Apalagi bagi si kecil yang masih butuh ASI.&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Untuk tujuan itu saya sengaja melampirkan berita dari Tempointeraktif.com.&lt;/span&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;strong&gt;TEMPO &lt;em&gt;Interaktif&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;: Sudah tak terbilang berapa kali Khairan Ananta Nugroho dan adiknya, Ranarya Puandida Nugroho, menanyakan keberadaan ibu mereka. Setiap menjelang tidur dan bangun dari peraduan, keduanya mencari sang ibu sambil menangis. "Bunda mana? Bundaaa...," jerit Ananta, 3 tahun, kala terjaga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; "Saya jawab, 'Ibu sedang dirawat di rumah sakit,'" tutur Andri Nugroho, 30 tahun, ayah Ananta dan Ranarya, dengan wajah sedih di rumahnya, Bintaro Sektor 9, Tangerang Selatan. Lantaran istrinya tak kunjung pulang, Andri terpaksa mengganti asupan ASI untuk anak bungsunya dengan susu formula. Ranarya, 1 tahun 3 bulan, diasuh bergantian oleh Andri dan pembantunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karyawan  perusahaan swasta di Senen, Jakarta Pusat, ini terpaksa berbohong karena anaknya terlalu kecil untuk memahami persoalan yang mendera Prita Mulyasari, 32 tahun. "Ini untuk kebaikan dan perkembangan psikologi mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prita adalah karyawati di bagian &lt;em&gt;call center&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/em&gt;sebuah bank swasta. Perempuan kelahiran 1977 di Solo, Jawa Tengah, itu mendekam di Penjara Wanita Tangerang sejak 13 Mei lalu. Ia dituduh mencemarkan nama baik Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutra, Tangerang Selatan, melalui Internet. Ancaman hukuman pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik itu maksimal 6 tahun penjara atau denda Rp 1 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bermula dari keluhan Prita atas pelayanan rumah sakit ketika dia dirawat pada awal Agustus 2008 lewat surat elektronik. Semula ia divonis terjangkit demam berdarah sehingga mesti rawat inap. Belakangan dokter menyatakan Prita terkena virus udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa keluhannya tak ditanggapi, Prita menuliskan pengalamannya via e-mail pada 15 Agustus 2008. Pihak rumah sakit menjawab keluhan lewat mailing list dan dua koran nasional. Ia akan disidang pada 4 Juni nanti di Pengadilan Negeri Tangerang. Sebelumnya, sidang perdata memutuskan Prita melanggar hukum. Tapi kedua belah pihak menyatakan banding.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Prita Mulyasari mengaku tak pernah menyebarkan keluhan tentang pelayanan Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutra  di &lt;em&gt;milling list&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;&lt;/em&gt;"Prita tak mempunyai komunitas atau milis tertentu," kata suaminya, Andri Nugroho, kepada &lt;em&gt;Tempo &lt;/em&gt;kemarin. "Dia hanya mengirimkan ke temannya melalui &lt;em&gt;e-mail &lt;/em&gt;pribadi." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362461571408009280-915419486859828098?l=rofii-perspektif.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/915419486859828098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362461571408009280&amp;postID=915419486859828098' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/915419486859828098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/915419486859828098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/2009/06/solidaritas-untuk-prita-mulyasari.html' title='Solidaritas Untuk Prita Mulyasari'/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='17052035480403329091'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280.post-764386435850679184</id><published>2009-05-29T00:31:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T00:37:40.338-07:00</updated><title type='text'>Salah Satu Kajian Neoliberalisme</title><content type='html'>&lt;p&gt;SUARA PEMBARUAN DAILY&lt;/p&gt; &lt;hr /&gt;  &lt;p&gt;&lt;img src="http://202.169.46.231/News/2008/12/21/Buku/1221buk1.gif" alt="" vspace="6" width="228" align="left" height="337" hspace="9" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Judul&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;:  Mitos Perkembangan Negara&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Oswaldo de Rivero&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penerjemah&lt;/strong&gt;: M Sya’roni Rofii&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Pustaka Pelajar, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cetakan&lt;/strong&gt;: Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tebal&lt;/strong&gt;: 320 halaman&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://202.169.46.231/News/2008/initials/k.gif" alt="K" width="19" align="left" height="23" /&gt;etika harus menghadapi tantangan-tantangan abad XXI, negara-negara Amerika Latin, Asia, dan terutama Afrika masih dipenuhi dengan berbagai proyek nasional yang tidak sukses. Tingkat kemiskinan yang benar-benar parah telah menghambat pembangunan nasional mereka. Minimnya teknologi juga menjadi kendala tersendiri bagi mereka untuk bersaing di kancah perekonomian global.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan segera, dunia menyematkan sandangan eufemistis terhadap mereka sebagai negara berkembang. Istilah negara berkembang terkesan menawarkan optimisme bahwa suatu hari nanti negara tersebut akan mencapai perkembangan sebagaimana yang telah dicapai negara-negara maju. Benarkah demikian?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk memastikan anggapan di atas, selayaknya kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, yang merupakan benang merah dari konstruksi perkembangan negara:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimana negara-negara akan mampu berkembang secara ekonomi ketika jumlah penduduknya terus saja bertambah dan komoditas ekspornya hanya berkutat pada bahan-bahan mentah dan setengah jadi?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimana perekonomian pasar dan masyarakat konsumer dapat terbentuk di negara-negara kawasan Amerika Latin, Asia, dan Afrika yang lebih dari 40 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, dengan pendapat kurang dari satu dolar per hari?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimana hampir 5 miliar penduduk dunia dengan pendapatan yang sangat rendah dapat terintegrasikan ke dalam pola-pola konsumsi global tanpa secara serius mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adalah Oswaldo de Rivero, seorang diplomat asal Peru, yang secara tegas menyatakan bahwa perkembangan negara berkembang hanyalah mitos. Sebuah mimpi yang diberikan oleh negara-negara yang terlebih dahulu merasakan kemakmuran, kesejahteraan, dan kemapanan, yang menebarkan pengaruhnya dalam bentuk wacana ideologis disertai bumbu hegemoni dan dominasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak sedikit negara-negara miskin dan berkembang yang akhirnya tersungkur dan terempas oleh kerasnya percaturan global serta teknologinya yang menganut hukum rimba, sebagaimana ajaran Darwin: &lt;em&gt;survival of the fittest.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Melalui buku inilah Oswaldo mempertahankan argumentasinya tentang mitos perkembangan negara. Di dalamnya diuraikan tentang sejarah perekonomian dunia, kemudian dianalisis secara tajam dampak yang akan ditimbulkan bagi negara-negara miskin dan berkembang. Oswaldo juga banyak menyinggung tentang ideologi kapitalisme, sosialisme, komunisme, nazisme, dan lain-lain. [&lt;strong&gt;Irham Sya'roni,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Pegiat Forum Kajian Lereng Merapi (For KaLeM) Yogyakarta&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt; &lt;hr /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362461571408009280-764386435850679184?l=rofii-perspektif.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/764386435850679184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362461571408009280&amp;postID=764386435850679184' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/764386435850679184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/764386435850679184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/2009/05/salah-satu-kajian-neoliberalisme.html' title='Salah Satu Kajian Neoliberalisme'/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='17052035480403329091'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280.post-1640704769598258399</id><published>2008-12-19T16:15:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T16:48:19.462-08:00</updated><title type='text'>Sepatu Butut For Bush</title><content type='html'>Jika saat ini anda sedang online, coba buka google, ketik pelempar sepatu, maka akan muncul seklitar 6.600 artikel (jumlah itu saat saya akses tanggal 20 Des 09). Namanya juga google, semua yang berkaitan dengan sepatu entah itu cara membuat sepatu, harga sepatu, produsen sepatu, dll, pokoknya sepatu deh, pasti nyangkut di mesin pencari canggih ini. Tapi kali ini sepatu dan lempar dikaitkan dengan lemparan seorang wartawan di Irak, dan menjadi headline di beberapa media massa seluruh dunia. rating beritanya tinggi banget deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini berita yang paling heboh dalam wacana masyarakat dunia adalah, seorang wartawan muda bernama Muntazer al-Zaidi, melemparkan sepatut butut yang beli di pasar lowak Irak ke arah  seorang pemimpin Amerika Serikat, G.W Bush.&lt;br /&gt;Seperti diberitakan bbc.com, saat melempar sepatu itu al-Zaidi mengucapkan kata perpisahan diselipi kata-kata yang kurang lebih membuat telinga seseorang panas dan sepatu butut bertali coklat itu dibeli di pasar lowak dikhususkan untuk melempar Bush.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemparan itu bagi sebagian besar masyarakat Arab, terutama warga Irak, sebentuk perlawanan seorang pahlawan muda dari tanah Irak.  Sekaligus perpisahan dengan seorang presiden aneh doyan berperang milik AS yang di negerinya sendiri dicaci-maki karena kebijakannya yang tidak waras dan memicu ambruknya perekonomian AS.&lt;br /&gt;Akibat pelemparan itu, Zaidy banyak meraih simpati: dari Mesir seorang bapak menawarkan anaknya untuk dinikahi dengan tanpa biaya apapu, pokonya teriwa beres deh (kompas 19/12); sepatu butut ditawar $ 100.000 sampai $ 10 juta; lembaga sosial milik anak pemimpin Libya Muammar Kadafi akan memberi penghargaan karena itu dianggap sebagai sebuah keberanian seorang pahlawan (bbc), dan  berkah simpati lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran buat Bush di akhir masa kepemimpinannya dan semua orang yang ingin meniru Bush, bahwa orang-orang baik di dunia ini akan selalu mendapat tempat di hati setiap orang. One world, one peace. Peace always!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362461571408009280-1640704769598258399?l=rofii-perspektif.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/1640704769598258399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362461571408009280&amp;postID=1640704769598258399' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/1640704769598258399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/1640704769598258399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/2008/12/sepatu-butut-for-bush.html' title='Sepatu Butut For Bush'/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='17052035480403329091'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280.post-5380514980370743513</id><published>2008-11-17T15:46:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T15:47:41.439-08:00</updated><title type='text'>Fenomena Obama</title><content type='html'>Tepat tanggal 4 November 2008 kemarin, dunia menyaksikan salah seorang warga Amerika Serikat keturunan Afro-Amerika, melangkah dengan pasti di atas panggung kemenangan setelah meruntuhkan dominasi partai Republik yang mengusung senator John McCain. Dengan wajah cerah ceria dibalut kemenangan Barack Hussein Obama berpidato di hadapan ribuan pendukungnya, pendukung Partai Demokrat tepatnya. Dalam pidato singkat itu ia kembali menegaskan komitmennya untuk membangun Amerika secara bersama-sama dengan semua pihak. Membuktikan slogan “perubahan” memang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Obama di pentas demokrasi Amerika bukanlah kemenangan yang mudah untuk didapat, sebab Amerika bukanlah negeri dongeng ataupun negeri mimpi, melainkan negeri realitas yang telah lama menggandeng demokrasi sebagai medium dalam membangun negara serta didukung oleh para pemilih yang bisa dibilang tingkat rasionalitasnya sangat tinggi. Konstituen seperti itu sangat teliti dalam menentukan pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat kecenderungan politik pada pemilu Amerika kemarin, kita bisa melihat kemenangan tersebut sangat ditentukan oleh beberapa faktor berikut di antaranya: Pertama, secara individu, Obama memang memiliki karakter cukup kuat sehingga iklan politik yang dijual ke publik oleh tim kampanyenya membuat publik yakin akan kapasitas dan kapabilitas sang kandidat. Sejak awal Obama memang dikenal sebagai politisi muda yang sangat dekat dengan konstituennya sehingga banyak tahu tentang kondisi masyarakat yang diwakilinya. Bahkan dalam menjalankan tugas sebagai senator, politisi yang mantan aktifis itu sangat sulit ditemukan di kantornya, karena lebih banyak terjun ke lapangan (daerah) untuk menjaring aspirasi orang-orang yang diwakilinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Amerika yang saat ini sedang diterpa krisis karena kredit rumah macet, membutuhkan sosok alternative. Dibandingkan dengan proposal McCain, Obama bagi rakyat Amerika lebih menjanjikan, sebab, memilih McCain sama saja dengan meneruskan dinasti kepemimpinan George W. Bush. Disamping itu, rakyat Amerika juga merindukan kesuksesan dalam berbagai bidang (terutama bidang ekonomi) yang pernah diraih pada era kepemimpinan Bill Clinton yang juga politisi partai Demokrat—seperti diutarakan beberapa analis bahwa sukses Clinton dalam mendongkrak Ekonomi Amerika  tiada lain merupakan desain dari tim ekonomi partai Demokrat--.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketiga, kekalahan kubu Republik pada pemilu kali ini tidak terlepas dari pengaruh Bush yang bisa dibilang gagal dalam menjalankan dua periode roda pemerintahan. Partai Republik mendapat “karma” dari dosa politik Bush yang telah menyalahgunakan kekuasaannya untuk menebarkan hegemoni dan dominasi. Menginvasi Afghanistan dan Irak adalah kesalah besar, sebab selain menderita kerugian secara finansial, juga menderita dari segi citra, Amerika sebagai bangsa dicaci-maki oleh banyak orang di berbagai belahan dunia  karena pilihan politik seperti itu. Oleh karena itu para pemilih seperti ingin mengakhiri caci-maki dunia selepas pemerintahan Bush kemudian menaruh harapan besar kepada Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, peran teknologi informasi (IT) di dunia modern seperti saat ini adalah sesuatu yang tidak bisa dinafikan. Sebab dengan mengadopsi teknologi (seperti media internet), tim kampanye Obama mampu menjangkau jutaan warga Amerika sekaligus mengajak mereka untuk menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara. Lebih-lebih para pemuda yang tidak begitu peduli dengan urusan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Obama yang telah lama dinanti, tidak hanya oleh rakyat Amerika tetapi juga oleh penduduk dunia itu merupakan sebuah fenomena menarik dalam melihat realitas politik di Amerika.  Amerika yang terkenal dengan pluralitasnya mampu meyakinkan dunia bahwa dalam demokrasi Amerika hak semua orang sama asalkan mereka memiliki kemampuan. Ini juga meneguhkan posisi Amerika sebagai kampiun demokrasi yang sebenarnya. Jejak Obama bukan tidak mungkin untuk bisa diikuti oleh politisi tanah air, jika telah memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk membangun negara maka “keberanian untuk berharap” menjadi taruhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362461571408009280-5380514980370743513?l=rofii-perspektif.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/5380514980370743513/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362461571408009280&amp;postID=5380514980370743513' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/5380514980370743513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/5380514980370743513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/2008/11/fenomena-obama.html' title='Fenomena Obama'/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='17052035480403329091'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280.post-582922700920238807</id><published>2008-09-05T19:14:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T19:16:05.226-07:00</updated><title type='text'>OSWALDO DE RIVERO: Potret Kegelisahan Negara-negara Miskin</title><content type='html'>OSWALDO: Potret Kegelisahan Negara-negara Miskin&lt;br /&gt;Oleh: M. Sya’roni Rofii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah dan renungan Oswaldo dapat dilihat dalam:&lt;br /&gt;Judul    : Mitos Perkembangan Negara&lt;br /&gt;Penulis  : Oswaldo de Rivero&lt;br /&gt;Penerjemah : M. Sya’roni Rofii&lt;br /&gt;Penerbit  : Pustaka Pelajar&lt;br /&gt;Cetakan : I, Agustus 2008                     &lt;br /&gt;Halaman :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat di sebuah negeri makmur bernama Peru, Amerika Latin, terlihat kekayaan alam yang melimpah ruah loh jinawi: negeri itu dikaruniai Tuhan berbagai macam sumber daya alam yang, kalau bisa dikelola dapat memberikan jaminan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Peru dari generasi ke generasi. Namun, kisah itu bukan berakhir bahagia, namun sebaliknya mereka kini tak ubahnya negeri terkutuk nan menyedihkan oleh kekayaannya sendiri: kemiskinan merajalela, pengangguran semakin bertambah, jumlah penduduk yang tak terkontrol, kerusakan lingkungan disana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka punya kekayaan alam yang melimpah ruah, namun kini semua itu adalah milik segelintir orang yang berprofesi sebagai para pemodal asing. Dalam skala makro derita itu akibat ketidakadilan pada ranah internasional yang dilegitimasi IMF, WTO dan Bank Dunia. Peru dipaksa berkompetisi dengan negara-negara maju, seperti seorang anak SD dipaksa bersaing dalam urusan perdagangan dengan para sarjana ekonomi. Siswa SD itu adalah negara-negara miskin seperti Peru, sedangkan negara-negara maju adalah para sarjana. Jelas anak SD kalah, dan kekalahannya itu disusul dengan intimidasi secara perlahan namun mematikan. Ketidakadilan pada tingkat legislasi internasional itu disaksikan sendiri oleh Oswaldo karena ia merupakan dubes/perwakilan Peru di PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar keluh kesah Oswaldo ternyata tidak ada bedanya dengan yang kita hadapi hari ini, derita tiada akhir Indonesia persis sama dengan yang dialami Peru. Kita sejak usia anak-anak diceritakan tentang kekayaan alam Nusantara dari sabang sampai Merauke. Namun, kekayaan itu tidak bisa kita nikmati, buktinya: kita punya ladang minyak di beberapa tempat tapi saat BBM naik kita malah ribut, sebab ladang minyak sudah menjadi milik orang lain; saat panen padi seharusnya para petani sangat bergembira dan makmur tapi itu tidak terjadi karena scenario internasional dan kelemahan pemerintah dalam hal proteksi, pemerintah malah mengimpor dari Thailand; biaya pendidikan tiap tahun dinaikkan; sudah dapat pendidikan, pekerjaan alangkah susah untuk didapat. Seburuk itukah kondisi kita? Lebih menyedihkan dari kisah Peru kah? Lantas menjadi kewajiban siapa untuk mengeluarkan ibu pertiwi dari jerat kesengsaaraan? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, untuk tidak memilih calon pemimpin pada pemilu 2009 yang tidak bersedia mengerti keinginan rakyat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362461571408009280-582922700920238807?l=rofii-perspektif.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/582922700920238807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362461571408009280&amp;postID=582922700920238807' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/582922700920238807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/582922700920238807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/2008/09/oswaldo-de-rivero-potret-kegelisahan.html' title='OSWALDO DE RIVERO: Potret Kegelisahan Negara-negara Miskin'/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='17052035480403329091'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280.post-4860069775442133366</id><published>2008-09-05T19:12:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T19:13:23.964-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;MENGABDI DI NEGERI ILUSI: INDONESIA&lt;br /&gt;(Renungan Kisah “Pengabdian Tanpa Batas,” Metro TV)&lt;br /&gt;Oleh: M. Sya’roni Rofii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan tayangan metro tv edisi kemarin, 05/09/09 mengenai pengabdian beberapa orang kepada komunitasnya masing-masing, membuat kita sedih, terharu, marah dan tak bisa berbuat banyak. Di tengah keramaian orang-orang aneh yang sedang sibuk dengan ritual lima tahunan yang kita kenal dengan istilah pemilu, terbersit sedikit cerita dari akar rumput tentang pengabdian seseorang pada cita-cita, mereka adalah orang-orang langka di negeri ini. Seperti apa mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, “Ada pasien yang tidak sanggup membayar saya dengan uang, tapi sebagai gantinya pihak pasien memberikan sebentuk materi untuk melengkapi kebutuhan sekolah darurat, dan bagi saya kesehatan mereka lebih penting daripada gaji saya, bahkan dengan uang yang saya terima dari pasien saya gunakan untuk membayar para petugas,” (kira-kira seperti itu ungkapan ibu bidan). Ibu Bidan (sebut saja seperti itu, sebab saya lupa namanya), menggambarkan potret perjuangan seorang wanita melawan derasnya arus di ibu kota. Bertahan menahan kerasnya benturan antara pengabdian dan penghasilan yang tidak mudah untuk menegosiasikan keduanya di tengah iklim perkotaan (Jakarta) yang kelihataannya tidak lagi manusiawi. Ia menyaksikan kemiskinan sangat dekat, ia dikelilingi senyum tawa anak-anak miskin di tempat kumuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang abdi kesehatan ia mengesampingkan kepentingan pribadi untuk orang lain, seperti ketika ia menceritakan bahwa suatu hari di rumah sakit, ia datang bersama seorang pasien dari daerah kumuh tempat dimana Ibu Bidan mengabdi, kedatangannya ke rumah sakit tentunya untuk mendapatkan jasa kesehatan, namun apa hendak dikata, di rumah sakit ia harus berhadapan dengan skema administrasi birokrasi yang tidak memberikan tempat bagi orang miskin, mereka akan mendapatkan jasa kesehatan jika memiliki jaminan untuk membayar, akhirnya ibu bidan sendiri yang mengeluarkan uangnya untuk menjamin si miskin mendapatkan hak untuk diobati,  seakan orang miskin dilarang sakit di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai di situ, selain sebagai abdi kesehatan ia juga menjadi penerobos di tengah kebuntuan dan ketidakpedulian pemerintah setempat, ia membentuk sekolah untuk anak-anak--meski pada awalnya sekolah itu merupakan kandang kambing dan tidak diperbolehkan oleh si pemilik untuk dijadikan sekolah--,  mencoba memberikan pencerahan dari sisi pendidikan untuk masa depan anak-anak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tidak kalah mengharukan dengan kisah ibu bidan, kisah lainnya adalah saat seorang guru mengambil inisiatif untuk memberikan kontribusi pendidikan bagi lingkungan sekitaranya. Guru itu bernama Haji Soleh, berasal dari sebuah tempat kumuh di Surabaya, sialnya tempat kumuh itu merupakan tempat jajanan para lelaki hidung belang: tempat mesum prostitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah cita-cita Haji Soleh mewakafkan dirinya untuk pendidikan, sebagai konsekuensinya ia harus merangkap menjadi guru agama, kepala sekolah, tukang bersih-bersih dan sekaligus menjadi makelar (kepala sekolah menjadi makelar tentunya sangat aneh tapi baginya makelar lebih mulia karena masih halal, mirip dengan kisah episode lain Kick Andy yang mengangkap potret kepala sekolah menjadi pemulung). Ia rela tidak digaji yang terpenting adalah bagaimana supaya anak-anak di lingkaran kemesuman itu memperoleh pendidikan dan pencerahaan agama dan akhlak. Kelihatannya H. Soleh juga tidak pernah masuk dalam data pemerintah dan tidak akan pernah mendapatkan subsidi pendidikan yang sampai sekarang diperjuangkan agar berjumlah 20 %. Sederhananya kepala sekolah yang makelar ini ingin melihat masa depan anak-anak yang ada dilingkungan kumuh itu kelak menjadi anak yang berguna. “Saya mewajibkan peserta didik saya untuk tidak membayar biaya pendidikan, yang penting mereka mau sekolah dan menjadi anak yang sukses, masalah biaya biar saya sendiri yang mengusahakan bagaimanapun caranya yang penting halal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah inspiratif episode ini kemudian diakhiri dengan potret seseorang berkebangsaan Jerman yang mengabdikan dirinya sejak tahun 1960-an untuk merawat para penderita kusta di NTT yang juga tidak kalah menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira seperti itulah ulasan singkatnya. Semoga anda yang kebetulah lebih dahulu menjadi “Jutawan” bisa berbuat lebih dari itu. Untuk mencari tahu lebih banyak tentang episode ini kunjungi saja situs Metro TV (kalo ga salah &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.metrotv.com/"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;www.metrotv.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, saya bukan agen marketing metrotv lho…hi..hi). Kisah di atas penting untuk dijadikan bahan renungan bersama untuk membangun Indonesia lebih baik.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362461571408009280-4860069775442133366?l=rofii-perspektif.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/4860069775442133366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362461571408009280&amp;postID=4860069775442133366' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/4860069775442133366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/4860069775442133366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/2008/09/mengabdi-di-negeri-ilusi-indonesia.html' title=''/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='17052035480403329091'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280.post-5145891182988576393</id><published>2008-03-07T05:19:00.000-08:00</published><updated>2008-03-07T05:20:49.492-08:00</updated><title type='text'>Geliat Dunia Buku dan Perfilman Tanah Air</title><content type='html'>M. Sya'roni R -Yogya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang di sebuah rumah makan kompleks mahasiswa di Yogyakarta saya tanpa sengaja melihat seorang ibu muda (35 tahun) yang juga penjual nasi sedang asyik membaca buku tebal ukuran kira-kira 17cm+14cm dengan ketebalan sekitar empat ratus halaman lebih, dengan lepas saya menanyakan kepada mbak Tini, penjual nasi itu, "sedang baca Ayat-ayat Cinta ya?" mendengar pertanyaan itu dia hanya tersipu malu disertai senyum mengiyakan, sebab membaca novel (terutama novel cinta) adalah hobi kebanyakan anak muda yang sedang mengisi kekosongan jiwanya dengan romansa cinta, berbeda dengan anak muda kebanyakan, tampaknya mbak Tini kali ini sedang terkena virus membaca yang, dalam tiga tahun terakhir ini sedang menjangkiti masyarakat dari berbagai kalangan, memeriahkan kejenuhan masyarakat Indonesia (salah satu contoh kasusnya di Yogya), menghibur bangsa Indonesia yang sedang lelah direngkuh arus kemiskinan (indikasinya, harga sembako terus saja melonjak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua novel fenomenal karya anak negeri, menurut hemat penulis adalah pemicu kemeriahan itu, Ayat-Ayat Cinta (AAC), karya Habiburrahman ElSy disusul tetralogi Laskar Pelangi (LP), Andrea Hirata. Wajar dua novel tersebut meraih predikat bestseller karena kedua penulisnya mampu menghadirkan realitas alternative ke hadapan public sehingga mampu menyaingi kehadiran novel thriller yang kebanyakan dari penulis luar negeri (rata-rata bestseller di negaranya masing-masing kemudian di alih bahasakan ke Indonesia), mereka berdua telah melewati tahap imajinasi yang berbuah karya brilian. Untuk yang pertama, AAC berhasil membawa pembaca ke belahan dunia lain, dunia mahasiswa Indonesia di Mesir, penonjolan budaya Indonesia di rantauan dan sekaligus mengarahkan pembacanya untuk memahami ajaran Islam yang peka atas realitas social, cinta damai disusul pluralitas tak terbantah dalam hidup, menceritakan ajaran agama yang humanis dengan representasi bangunan karakter tokoh Fahri, Aisha dan Maria. Dan kedua, LP juga tak ubahnya pelengkap dari AAC, kenapa saya menyatakan demikian? Sebab, menurut hemat saya LP mengajak kita untuk menguliti lokalitas, meneropong khazanah Nusantara yang begitu luas, lewat budaya dimana Andrea hidup, dapat dilihat sebagai salah satu dari ribuan kekayaan budaya Nusantara, adapun tokoh-tokoh kecil tanpa dosa korban kelalaian Negara yang juga anggota LP itu tergambar ketegaran anak manusia Indonesia menghadapi hidup, ketegaran yang hanya didukung kekuatan Cita-Cita. Aroma cinta pada kedua novel, AAC dan LP, menjadi nilai tambah karena dengan pendekatan cinta dunia terasa indah seindah untaian kata-kata yang mengalir secara alamiah bersumber dari cinta itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya di dunia perfilman (narsis banget ya, kayak pakar buku dan film aja), dari pengamatan saya sendiri, Denias, Naga Bonar Jadi 2, Get Married, Ayat-ayat Cinta (urutan berdasarkan tahun produksi),  adalah empat judul film tanah air yang, menurut hemat saya pantas mengisi deretan box office, layak mendapatkan bintang lima. Keempat film juga tidak jauh berbeda dengan uraian buku di atas, namun film-film ini lebih ekspressif jika dibanding novel meski kering imajinasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Denias yang pada akhir 2007 juga meraih penghargaan pada festival film Cannes, Perancis sebuah penghargaan cukup prestisius di kancah internasional, film yang mengisahkan tentang dunia anak-anak di Penjuru Timur Indonesia yang ingin sekolah namun terbentur oleh infrastruktur, memotret dunia pendidikan dan pembangunan yang tidak merata, pemerintah daerah tidak mampu mengelola APBD secara merata begitu juga dengan orang pusat yang hanya datang ke daerah pada saat-saat tertentu (kita tahu sendiri betapa bobroknya etika politik di tanah air, rata-rata menjadi mesin politik pada saat suksesi kepemimpinan baik di pusat maupun daerah, setelah duduk di pemerintahan, mereka akan berkata kira-kira seperti ini 'selamat tinggal para pemilih, kini kami melalui kursi pemerintahan ingin memperkaya tim sukses kami yang dulu membawa kami menuju tampuk kekuasaan", walaupun tidak semua politisi tanah air seperti itu). Karakter film Denias cukup kuat. Kedua, film Naga Bonar olahan tangan dingin Dedi Mizwar juga sarat dengan kritik social tanah air, penuh pesan positif, mengajak kita untuk tetap membela para pahlawan bangsa dan menjunjungtinggi nasionalisme walaupun di dunia korporasi liberal seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Get Married, permulaan film di awali dengan narasi kritik social, mengisahkan tentang persahabatan anak kampung yang kelak menjadi pengangguran di tengah arus metropolitan, juga menguraikan tentang dampak buruk dari penyelewengan dana oleh oknum pemerintah, menceritakan kepada kita tentang kesenjangan social yang sering terjadi antara si kaya dan si miskin dengan symbolisasi warga kampung merepresentasikan kemiskinan dan warga komplek si kaya, dibumbui dengan anarkisme keindonesiaan, logika tak lagi berfungsi ketika solidaritas kekerasan terbangun, bagi masyarakat Indonesia dalam film ini anarkisme adalah solusi paling cepat untuk mennyelesaikan persoalan, namun semua itu terlampaui ketika cinta berada di garda terdepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Ayat-ayat Cinta yang juga diadopsi dari novel Habiburrahman mengakhiri petualangan kita  di belantara cinta (untuk sementara) sampai pada awal 2008 ini. Pun dalam film ini tidak jauh berbeda dengan kisah yang ada dalam novelnya, meski ada beberapa adegan dalam novel tidak diolah apa adanya dan hal itu wajar karena pilihan untuk menghilangkan beberapa adegan di novel sangat menyesesuaikan dengan dunia perfilman, asumsi saya, penghilangan beberapa adegan agar memudahkan produser mengekspersikan dunia novel dalam dunia semi-nyata (film), beberapa rintangan berat tampaknya berhasil dilewati oleh kru film ini, sebab mereka dengan dunia filmnya mampu mendeskripsikan ajaran agama secara sederhana dan mudah diterima banyak kalangan, salah satunya menghadirkan poligami yang kontroversial di tanah air dengan pendekatan yang cukup hati-hati, dan pada akhirnya cinta sulit dilukiskan dengan kata-kata, cinta mereduksi logika, cinta, cinta…..ya, cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, sedikit pandangan pribadi tentang dunia perbukuan dan perfilman Indonesia. Membaca novel berkualitas dengan ketebalan di atas 300 halaman oleh masyarakat luas untuk konteks saat ini patut diapresiasi, apalagi ketika kita melihat para pecandu Harry Potter di negeri ini yang merelakan 'begadang' demi menanti launch resmi novel imajinatif karya JK Rowling, antusiasme para pembaca Indonesia dapat dijadikan sinyalemen positif bagi pemangku kebijakan, bahwa masyarakat kita telah mulai, bahkan telah lama mulai, menikmati iklim literasi, sayangnya akses terhadap literatur itu masih parsial, elitis, dikonsumsi masyarakat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarannya, agar harga kertas lebih murah, penulis, penerbit dan pemerintah bergerak bersama untuk kepentingan bersama tanpa menapikan aspek ekonomis dunia buku, untuk mensupport antusiasme yang sedang bergeliat itu. Budaya literasi bagian dari fondasi peradaban. Eureka!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362461571408009280-5145891182988576393?l=rofii-perspektif.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/5145891182988576393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362461571408009280&amp;postID=5145891182988576393' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/5145891182988576393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/5145891182988576393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/2008/03/geliat-dunia-buku-dan-perfilman-tanah.html' title='Geliat Dunia Buku dan Perfilman Tanah Air'/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='17052035480403329091'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280.post-3349611438345488234</id><published>2007-08-29T18:20:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:05:14.718-08:00</updated><title type='text'>nasionalisme kita</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mengurai Kembali Nasionalisme Kaum Muda&lt;br /&gt;Oleh : M. Sya’roni Rofii*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam puluh du&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_H3wo7fEqFMo/RtYce4bXpPI/AAAAAAAAAAU/keg6n8RZI0I/s1600-h/0440508797.01._SX50_SCLZZZZZZZ_.jpg"&gt;&lt;/a&gt;a tahun yang lalu para pahlawan kita memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, merebut kedaulatan negara dari tangan penjajah. Sebuah perjuangan yang melelahkan dan penuh pengorbanan, namun tidak pernah sedikitpun mengurangi dedikasi mereka kepada ibu pertiwi. Selain menggunakan perjuangan militer para penemu bangsa ini juga menggunakan jalur diplomasi. Mereka berjuang dengan cara mereka masing-masing tetapi memiliki spirit yang sama, yakni menggenggam kembali kedaulatan tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menempuh lika-liku perjuangan, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, dua orang bapak proklamator, Sukarno-Hatta, berdiri tegak mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mendeklarasikan titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia. Dalam proklamasi yang singkat dan terburu-buru yang bertempat di pekarangan rumah Sukarno di Jakarta itu memiliki arti penting dalam sejarah Indonesia, sekaligus menjadi sintesis sejarah dialektika kaum muda dengan kaum tua yang memiliki prinisp yang sama namun berbeda cara pandang. Sebab sebelum menuju ke arah proklamasi, setelah Jepang tuduk kepada sekutu, Jepang menjadi boneka sekutu dengan memerintahkan mereka untuk mengamankan status quo dengan tujuan untuk melanjutkan estapet penjajahan selanjutnya. Namun berkat kesadaran para pemuda Indonesia, maka terjadilah peristiwa Rengasdeklok, momen dimana para kaum tua “kalah” oleh kaum muda. Akhirnya, proklamasi kemerdekaan Indonesia pun berjalan sesuai rencana para pemuda –setelah proklamasi dibacakan langkah Jepang selanjutnya adalah menjegal publikasi kemerdekaan kedaerah-daerah lain, tapi berkat jasa kurir pemuda Indonesia juga berita itu bisa sampai di kota-kota lain di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dideklarasikannya kemerdekaan Indonesia, maka terpotonglah garis penjajahan. Indonesia menjadi negara baru sederajat dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia itu kemudian menjadi awal sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh putra bangsa dibawah kepemimpinan Presden Sukarno dengan didampingi oleh wakilnya Mohammad Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benedict Anderson, seorang antropolog Barat yang ahli Indonesia, melihat nasionalisme bangsa Indonesia sebagai sesuatu yang unik, yakni bangsa Indonesia memiliki kesamaan imaji meskipun terdiri dari berbagai suku bangsa dari Sabang sampai Merauke, yang ia istilahkan dengan, immaginated communities (komunitas imajiner). Nasionalisme Indonesia dalam proses pembentukkannya pun tidaklah sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari bagaimana nasionalisme Indonesia terbentuk, yang jelas, saat ini negeri kita sedang dihadapkan pada persoalan serius menyangkut kedaulatan negara Indonesia. Di sana-sini dengan mudahnya oknum yang tidak berpikir panjang menyuarakan suara-suara separatisme, memiliki napsu untuk memisahkan diri dari NKRI. Nasionalisme kita tidak sekokoh enam puluh dua tahun yang lalu. Hal ini menjadi isyarat bahwa masih banyak entitas-entitas yang merasa belum memiliki ikatan kuat dengan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu simbol kehormatan yang dimiliki bangsa Indonesia adalah sang saka Merah Putih, bendera dua warna ini memiliki tempat tersendiri di hati rakyat Indonesia. Menghina Merah Putih berarti menghina Indonesia, perasaan serupa juga dirasakan oleh negara-bangsa lain di seluruh penjuru dunia. Maka, tindakan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggunggjawab di beberapa daerah di Indonesia dengan menurunkan bahkan membakar simbol negara layak untuk dikecam dan diberi sanksi sesuai ketentuang undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping fenomena separatis yang akhir-akhir ini marak terdengar, persoalan yang juga tidak kalah menariknya adalah bagaimana pandangan anak muda kita melihat bangsa Indonesia dan bagaiaman pula upaya pemerintah dalam melakukan konservasi budaya nasionalisme generasi muda. Sebab suka atau tidak suka, tongkat estapet nasionalisme akan dilanjutkan oleh pemuda Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah yang dilakukan Presiden SBY melalui staf kenegaraan dengan mengundang dua Band anak bangsa, Coklat dan Samsons untuk menciptakan video klip kebangsaan yang memiliki kaitan erat dengan momentum nasionalisme sekaligus sebagai penghormatan atas kontingen Garuda yang sedang menjalankan tugas kenegaraan di daerah konflik Timur Tengah dibawah bendera PBB patut diacungi jempol. Pendekatan dengan memanfaatkan ikon anak muda, seperti Band, untuk konteks saat ini sangatlah tepat. Karena nasionalisme bisa datang dari mana saja. Setiap generasi memiliki cara sendiri untuk merefleksikan nilai-nilai nasionalisme. Tinggal bagaimana pemerintah menafsirkan gejala nasionalisme yang terjadi di kalangan anak muda kemudian mengelolanya menjadi nasionalisme ‘aplikatif’, artinya pemerintah harus mengisi ruang-ruang nasionalisme itu dengan hal-hal yang mampu mengarahkan anak muda untuk dapat mencintai warisan sejarah bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, berbicara nasionalisme percuma saja, jika pemerintah sendiri belum mampu sepenuhnya menjaga dan melakukan konservasi atas symbol dan kultur nasionalisme kita. Museum-musem banyak yang tidak terawat sehingga generasi muda enggan untuk mendatanginya; artefak atau warisan kebudayaan lainnya banyak diperjualbelikan oleh oknum-oknum yang dililit oleh kesulitan ekonomi; kurikulum sejarah kita yang masih saja simpang siur, dan lain lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, dengan dirayakannya ulang tahun kemerdekaan NKRI yang ke enam puluh dua dapat menjadi lokomotif kebangkitan Indonesia, menjadi inspirasi bagi pemerintah untuk terus-menerus membenahi kemerdekaan dan dapat menghadapi segala macam persoalan dengan cara yang lebih bijak dan tentunya dewasa seabagaimana usianya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362461571408009280-3349611438345488234?l=rofii-perspektif.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/3349611438345488234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362461571408009280&amp;postID=3349611438345488234' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/3349611438345488234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/3349611438345488234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/2007/08/nasionalisme-kita.html' title='nasionalisme kita'/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='17052035480403329091'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280.post-3432332508707874139</id><published>2007-04-24T22:28:00.000-07:00</published><updated>2007-04-24T22:39:44.905-07:00</updated><title type='text'>Seputar “Kebangkitan” Sosialisme-Komunisme</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; “Lawan Komunisme’ kembali terdengar dalam wacana politik keindonesiaan, beberapa minggu yang lalu media massa nasional marak mengangkat isu ini,  lebih-lebih ketika persoalan ini melibatkan beberapa elemen  yang tergolong sensitive terhadap isu-isu yang dianggap ‘berbahaya’. Adalah FPI (Front Pembela Islam) sebagai gerakan baru di Indonesia mendeklarasikan kelompok mereka sebagai pengawal syari’at Islam sehingga isu-isu sensitive yang tidak sesuai dengan nilai-nilai syari’at harus dibendung. Kekhawatiran itu terbukti dengan adanya konfrontasi antara FPI dengan PAPERNAS (Partai Peduli Rakyat Nasional) yang dideklarasikan di Jakarta pada tahun … dan di wilayah Yogyakarta pada tahun 2007, ada indikasi bahwa partai ini merupakan kelahiran baru sosialisme-komunisme terstruktur di Indonesia dengan melihat kecenderungan-kecendrungan yang melekat pada eksistensi mereka (dan penulis sendiri belum yakin karena belum mencari bagaimana sebenarnya PAPERNAS sebagai sebuah partai yang dituduh seperti itu dan bagaimana pula relasi ideologis dengan partai komunis sebelumnya, jangan-jangan hanya ‘gosip’ yang dijadikan sebagai ajang untuk mencari popularitas menjelang Pemilu 2009). Konfrontasi antara FPI dengan PAPERNAS di Jakarta tepatnya di sekitar bundaran HI pada Maret lalu tiada lain karena ada semacam kecurigaan yang, bukan hanya datang dari FPI semata, akan tetapi dari seluruh kalangan (masyarakat Indonesia) yang trauma dengan tragedy kebangsaan yang hampir saja menjegal Pancasila dengan menggantikannya dengan ideology ‘komunisme’ pada era tahun enam puluhan.&lt;br /&gt;Terlepas dari perseteruan beberapa pihak yang masing-masing memiliki kepentingan politik, ada baiknya kalau kita melihat perseteruan itu dalam kacamata epistimologis-filosofis karena keberadaan sosialisme dan komunisme (selanjutnya disingkat SosKom) merupakan ideology yang tidak akan pernah lekang di makan waktu, selagi kapitalisme masih ada maka perbincangan tentang SosKom tetap relevan karena ketiga ideology ini memiliki relasi saling mengisi: entah Kapitalisme sebagai antitesis dari SosKom atau sebaliknya, atau bahkan ketiganya dapat melebur menjadi sintesis yang saling melengkapi.&lt;br /&gt;Franz Magnis Suseno memulai pembahasan mengenai komunisme dengan deskripsi yang cukup lihai, “Ada hantu berkeliaran di Eropa, Hantu komunisme” tulis magnis mengutif Manifesto Komunis, sebuah dokumen Marxisme paling masyhur yang ditulis oleh Friedrich Engels dan Karl Marx pada akhir tahun 1847 (Frans Magnis Suseno, 1999: 1).  Dan memang saat itu, pada abad ke-20 komunisme merupakan kekuatan idologi politik yang hampir semua negara meniru komunisme, cukup beralasan jika Indonesia pada saat itu juga memiliki hubungan mesra dengan komunisme terbukti dengan adanya Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan pengaruh yang cukup kuat pada penguasaan suara mayoritas melalui tokoh-tokoh nasionalis saat itu. Namun tidak lama setelah kejayaan ideology komunis pada abad ke-20, pada abad yang sama pula, komunisme sebagai ideology politik internasional  mendapatkan pukulan berat, dengan kehancuran Partai Komunis Indonesia sebagai buntut kudeta Gerakan 30 September. Sepuluh tahun kemudian, 1975, komunisme mencapai kemenangan terakhir di Vietnam. Namun itu juga merupakan saat kemunduran kekuatan komunisme tidak dapat disembunyikan lagi. Di Eropa Barat, beberapa partai komunis, didahului oleh Partai Komunis Italia, membuang Leninisme, inti sari komunisme, dengan menggantikannya dengan sesuatu yang mereka sebut Euro-komunisme. Di tahun 80-an komunisme dan Marxsisme mulai semakin kelihatan  sebagai kekuatan masa lampau yang ketinggalan zaman. Buku-buku Marx, Lenin, dan Mao Tse-dong yang selama tahun 60-an dan 70-an laris manis di pasaran. Sedangkan di Asia dan Afrika perlawanan terhadap ketidakadilan dilawan dengan unsur kesukuan, fanatisme agama sedikit banyak menggeser pengaruh Marxisme dan komunisme.  &lt;br /&gt;Dalam perangkat istilah, “Marxisme” tidak sama dengan ‘komunisme’. ‘Komunisme’ yang juga disebut ‘komunisme internasional’ adalah nama ‘gerakan kaum komunis’. Komunisme adalah gerakan dan kekuatan politik partai-partai komunis yang sejak Revolusi Oktober 1917 di bawah pimpinan W.I. Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional. Istilah ‘komunisme’ juga dipakai untuk ‘ajaran komunisme’ atau Marxisme-Leninisme’ yang merupakan ajaran atau ‘ideologi’ resmi komunisme. Sehingga Marxisme merupakan salah satu komponen ideologis komunisme. Dan ada kecenderungan oleh komunisme yang berupaya untuk memonopoli ajaran marxis sebagai satu-satunya pewaris tunggal ideology marxisme, dalam hal ini dikomandoi oleh Lenin.&lt;br /&gt;Bagi Marx komunisme bukanlah kapitalisme negara, dimana hak milik diadminitrasikan oleh negara. Marx mengatakan bahwa hanya pada permulaan, sosialisasi berarti nasionalisasi—jadi negara mengambil hak milik pribadi. Tetapi sesudah kaum kapitalis tidak merupakan ancaman lagi, negara kehilangan fungsinya  dan menghilang. Maka pabrik dan tempat produksi lain akan diurus langsung oleh mereka yang bekerja di situ.&lt;br /&gt;Ciri-ciri masyarakat komunis adalah penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi, penghapusan adanya kelas-kelas sosial, menghilangnya negara, penghapusan pembagian kerja. Kelas-kelas tidak perlu dihapus secara khusus sesudah kelas kapitalis ditiadakan karena kapitalisme sendiri sudah menghapus semua kelas, sehingga hanya tinggal proletariat. Itulah sebabnya revolusi sosialis tidak akan menghasilkan masyarakat dengan kelas atas dan kelas bawah lagi. Komunisme juga terbagi menjadi tiga kubu:  revisionis, ortodoks, dan revolusioner. Masing-masing kubu merupakan penjelmaan dari penafsiran atas ajaran-ajaran Marx.&lt;br /&gt;Begitu juga dengan sosialisme yang pertama kali sebagai impuls filosofis dan etis, tapi jauh sebelum Marx sosialisme mulai tampil sebagai doktrin ekonomi. Tetapi Marx lah yang melengkapi sosialisme dengan teori ekonomi yang lengkap dan terperinci.&lt;br /&gt;Seperti yang disebutkan diatas, sosialisme-komunisme merupakan dua term yang saling berdekatan dalam menyebarkan pengaruhnya di seluruh penjuru dunia. Thomas Kuhn menafsirkan paradigma manusia akan terus berubah secara revolusioner, maka ideology akan di anut secara sadar oleh sebuah komunitas masyarakat/negara (penguasa) jika melihat ideology itu menjanjikan dan mampu menjawab persoalan-persoalan kebangsaan. Oleh karena itu, kedua ideology yang penulis bahas ini memang sedang menjadi hantu gentayangan yang tidak jelas ke arah mana akan melangkah karena seperti yang ditulis  I Wibowo, seorang pakar studi China  menggambarkan bagaimana yang terjadi saat ini di negara yang konon masih mengabdi pada peradaban komunisme itu, bahwa di China saat ini komunisme hanyalah sebuah pajangan yang diletakkan di atas dinding-dinding konstitusi mereka, namun dalam prakteknya mereka adalah bangsa yang berusaha menjadi ‘kapitalisme bermoral’ dalam membangun masyarakat—terutama masyarakat pedesaan—(I Wibowo: 1999).&lt;br /&gt;Sehingga persoalan yang menyangkut ideology apapun, kapanpun dan dari manapun adalah merupakan bagian dari kreasi manusia untuk menjadikannya sebagai pandangan hidup yang menyesuaikan diri dengan kultur masyarakat setempat, Undang Undang yang dimiliki Indonesia pun kalau dilihat dari prinsipnya cenderung kearah  sosialisme dan tidak terlepas dari peran Hatta, Sukarno, Sjahrir dan tokoh nasional lainnya [M. Sya’roni, e-mail: ich_kabari@yahoo.com].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;References :&lt;br /&gt;Franz Magnis Susesno, Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme,  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.&lt;br /&gt;Henry J. Schmandt, A History of Political Phylosophy,  tej. Ahmad Baidowi, Yogyatakarta: Pustaka Pelajar, 2002.  &lt;br /&gt;Antony Giddens, The Third Way The Renewal of Social Democracy, terj. Ketut Arya Mahardika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.&lt;br /&gt;I Wibowo, Kompas, 1999.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362461571408009280-3432332508707874139?l=rofii-perspektif.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/3432332508707874139/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362461571408009280&amp;postID=3432332508707874139' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/3432332508707874139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/3432332508707874139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/2007/04/seputar-kebangkitan-sosialisme.html' title='Seputar “Kebangkitan” Sosialisme-Komunisme'/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='17052035480403329091'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5362461571408009280.post-4626216041464408900</id><published>2007-04-24T22:21:00.000-07:00</published><updated>2007-04-24T22:24:59.126-07:00</updated><title type='text'>Seputar Kebangkitan komunisme</title><content type='html'>persobaan blog....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5362461571408009280-4626216041464408900?l=rofii-perspektif.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/feeds/4626216041464408900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5362461571408009280&amp;postID=4626216041464408900' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/4626216041464408900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5362461571408009280/posts/default/4626216041464408900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rofii-perspektif.blogspot.com/2007/04/seputar-kebangkitan-komunisme.html' title='Seputar Kebangkitan komunisme'/><author><name>M. SYA'RONI ROFII</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02079629180915529376</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='17052035480403329091'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>