M. Sya'roni R -Yogya
Suatu siang di sebuah rumah makan kompleks mahasiswa di Yogyakarta saya tanpa sengaja melihat seorang ibu muda (35 tahun) yang juga penjual nasi sedang asyik membaca buku tebal ukuran kira-kira 17cm+14cm dengan ketebalan sekitar empat ratus halaman lebih, dengan lepas saya menanyakan kepada mbak Tini, penjual nasi itu, "sedang baca Ayat-ayat Cinta ya?" mendengar pertanyaan itu dia hanya tersipu malu disertai senyum mengiyakan, sebab membaca novel (terutama novel cinta) adalah hobi kebanyakan anak muda yang sedang mengisi kekosongan jiwanya dengan romansa cinta, berbeda dengan anak muda kebanyakan, tampaknya mbak Tini kali ini sedang terkena virus membaca yang, dalam tiga tahun terakhir ini sedang menjangkiti masyarakat dari berbagai kalangan, memeriahkan kejenuhan masyarakat Indonesia (salah satu contoh kasusnya di Yogya), menghibur bangsa Indonesia yang sedang lelah direngkuh arus kemiskinan (indikasinya, harga sembako terus saja melonjak).
Dua novel fenomenal karya anak negeri, menurut hemat penulis adalah pemicu kemeriahan itu, Ayat-Ayat Cinta (AAC), karya Habiburrahman ElSy disusul tetralogi Laskar Pelangi (LP), Andrea Hirata. Wajar dua novel tersebut meraih predikat bestseller karena kedua penulisnya mampu menghadirkan realitas alternative ke hadapan public sehingga mampu menyaingi kehadiran novel thriller yang kebanyakan dari penulis luar negeri (rata-rata bestseller di negaranya masing-masing kemudian di alih bahasakan ke Indonesia), mereka berdua telah melewati tahap imajinasi yang berbuah karya brilian. Untuk yang pertama, AAC berhasil membawa pembaca ke belahan dunia lain, dunia mahasiswa Indonesia di Mesir, penonjolan budaya Indonesia di rantauan dan sekaligus mengarahkan pembacanya untuk memahami ajaran Islam yang peka atas realitas social, cinta damai disusul pluralitas tak terbantah dalam hidup, menceritakan ajaran agama yang humanis dengan representasi bangunan karakter tokoh Fahri, Aisha dan Maria. Dan kedua, LP juga tak ubahnya pelengkap dari AAC, kenapa saya menyatakan demikian? Sebab, menurut hemat saya LP mengajak kita untuk menguliti lokalitas, meneropong khazanah Nusantara yang begitu luas, lewat budaya dimana Andrea hidup, dapat dilihat sebagai salah satu dari ribuan kekayaan budaya Nusantara, adapun tokoh-tokoh kecil tanpa dosa korban kelalaian Negara yang juga anggota LP itu tergambar ketegaran anak manusia Indonesia menghadapi hidup, ketegaran yang hanya didukung kekuatan Cita-Cita. Aroma cinta pada kedua novel, AAC dan LP, menjadi nilai tambah karena dengan pendekatan cinta dunia terasa indah seindah untaian kata-kata yang mengalir secara alamiah bersumber dari cinta itu sendiri.
Selanjutnya di dunia perfilman (narsis banget ya, kayak pakar buku dan film aja), dari pengamatan saya sendiri, Denias, Naga Bonar Jadi 2, Get Married, Ayat-ayat Cinta (urutan berdasarkan tahun produksi), adalah empat judul film tanah air yang, menurut hemat saya pantas mengisi deretan box office, layak mendapatkan bintang lima. Keempat film juga tidak jauh berbeda dengan uraian buku di atas, namun film-film ini lebih ekspressif jika dibanding novel meski kering imajinasi.
Pertama, Denias yang pada akhir 2007 juga meraih penghargaan pada festival film Cannes, Perancis sebuah penghargaan cukup prestisius di kancah internasional, film yang mengisahkan tentang dunia anak-anak di Penjuru Timur Indonesia yang ingin sekolah namun terbentur oleh infrastruktur, memotret dunia pendidikan dan pembangunan yang tidak merata, pemerintah daerah tidak mampu mengelola APBD secara merata begitu juga dengan orang pusat yang hanya datang ke daerah pada saat-saat tertentu (kita tahu sendiri betapa bobroknya etika politik di tanah air, rata-rata menjadi mesin politik pada saat suksesi kepemimpinan baik di pusat maupun daerah, setelah duduk di pemerintahan, mereka akan berkata kira-kira seperti ini 'selamat tinggal para pemilih, kini kami melalui kursi pemerintahan ingin memperkaya tim sukses kami yang dulu membawa kami menuju tampuk kekuasaan", walaupun tidak semua politisi tanah air seperti itu). Karakter film Denias cukup kuat. Kedua, film Naga Bonar olahan tangan dingin Dedi Mizwar juga sarat dengan kritik social tanah air, penuh pesan positif, mengajak kita untuk tetap membela para pahlawan bangsa dan menjunjungtinggi nasionalisme walaupun di dunia korporasi liberal seperti saat ini.
Ketiga, Get Married, permulaan film di awali dengan narasi kritik social, mengisahkan tentang persahabatan anak kampung yang kelak menjadi pengangguran di tengah arus metropolitan, juga menguraikan tentang dampak buruk dari penyelewengan dana oleh oknum pemerintah, menceritakan kepada kita tentang kesenjangan social yang sering terjadi antara si kaya dan si miskin dengan symbolisasi warga kampung merepresentasikan kemiskinan dan warga komplek si kaya, dibumbui dengan anarkisme keindonesiaan, logika tak lagi berfungsi ketika solidaritas kekerasan terbangun, bagi masyarakat Indonesia dalam film ini anarkisme adalah solusi paling cepat untuk mennyelesaikan persoalan, namun semua itu terlampaui ketika cinta berada di garda terdepan.
Keempat, Ayat-ayat Cinta yang juga diadopsi dari novel Habiburrahman mengakhiri petualangan kita di belantara cinta (untuk sementara) sampai pada awal 2008 ini. Pun dalam film ini tidak jauh berbeda dengan kisah yang ada dalam novelnya, meski ada beberapa adegan dalam novel tidak diolah apa adanya dan hal itu wajar karena pilihan untuk menghilangkan beberapa adegan di novel sangat menyesesuaikan dengan dunia perfilman, asumsi saya, penghilangan beberapa adegan agar memudahkan produser mengekspersikan dunia novel dalam dunia semi-nyata (film), beberapa rintangan berat tampaknya berhasil dilewati oleh kru film ini, sebab mereka dengan dunia filmnya mampu mendeskripsikan ajaran agama secara sederhana dan mudah diterima banyak kalangan, salah satunya menghadirkan poligami yang kontroversial di tanah air dengan pendekatan yang cukup hati-hati, dan pada akhirnya cinta sulit dilukiskan dengan kata-kata, cinta mereduksi logika, cinta, cinta…..ya, cinta.
Demikianlah, sedikit pandangan pribadi tentang dunia perbukuan dan perfilman Indonesia. Membaca novel berkualitas dengan ketebalan di atas 300 halaman oleh masyarakat luas untuk konteks saat ini patut diapresiasi, apalagi ketika kita melihat para pecandu Harry Potter di negeri ini yang merelakan 'begadang' demi menanti launch resmi novel imajinatif karya JK Rowling, antusiasme para pembaca Indonesia dapat dijadikan sinyalemen positif bagi pemangku kebijakan, bahwa masyarakat kita telah mulai, bahkan telah lama mulai, menikmati iklim literasi, sayangnya akses terhadap literatur itu masih parsial, elitis, dikonsumsi masyarakat tertentu.
Sarannya, agar harga kertas lebih murah, penulis, penerbit dan pemerintah bergerak bersama untuk kepentingan bersama tanpa menapikan aspek ekonomis dunia buku, untuk mensupport antusiasme yang sedang bergeliat itu. Budaya literasi bagian dari fondasi peradaban. Eureka!!!
March 7, 2008
August 30, 2007
nasionalisme kita
Mengurai Kembali Nasionalisme Kaum Muda
Oleh : M. Sya’roni Rofii*
Enam puluh dua tahun yang lalu para pahlawan kita memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, merebut kedaulatan negara dari tangan penjajah. Sebuah perjuangan yang melelahkan dan penuh pengorbanan, namun tidak pernah sedikitpun mengurangi dedikasi mereka kepada ibu pertiwi. Selain menggunakan perjuangan militer para penemu bangsa ini juga menggunakan jalur diplomasi. Mereka berjuang dengan cara mereka masing-masing tetapi memiliki spirit yang sama, yakni menggenggam kembali kedaulatan tanah air.
Dengan menempuh lika-liku perjuangan, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, dua orang bapak proklamator, Sukarno-Hatta, berdiri tegak mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mendeklarasikan titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia. Dalam proklamasi yang singkat dan terburu-buru yang bertempat di pekarangan rumah Sukarno di Jakarta itu memiliki arti penting dalam sejarah Indonesia, sekaligus menjadi sintesis sejarah dialektika kaum muda dengan kaum tua yang memiliki prinisp yang sama namun berbeda cara pandang. Sebab sebelum menuju ke arah proklamasi, setelah Jepang tuduk kepada sekutu, Jepang menjadi boneka sekutu dengan memerintahkan mereka untuk mengamankan status quo dengan tujuan untuk melanjutkan estapet penjajahan selanjutnya. Namun berkat kesadaran para pemuda Indonesia, maka terjadilah peristiwa Rengasdeklok, momen dimana para kaum tua “kalah” oleh kaum muda. Akhirnya, proklamasi kemerdekaan Indonesia pun berjalan sesuai rencana para pemuda –setelah proklamasi dibacakan langkah Jepang selanjutnya adalah menjegal publikasi kemerdekaan kedaerah-daerah lain, tapi berkat jasa kurir pemuda Indonesia juga berita itu bisa sampai di kota-kota lain di Jawa.
Dengan dideklarasikannya kemerdekaan Indonesia, maka terpotonglah garis penjajahan. Indonesia menjadi negara baru sederajat dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia itu kemudian menjadi awal sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh putra bangsa dibawah kepemimpinan Presden Sukarno dengan didampingi oleh wakilnya Mohammad Hatta.
Benedict Anderson, seorang antropolog Barat yang ahli Indonesia, melihat nasionalisme bangsa Indonesia sebagai sesuatu yang unik, yakni bangsa Indonesia memiliki kesamaan imaji meskipun terdiri dari berbagai suku bangsa dari Sabang sampai Merauke, yang ia istilahkan dengan, immaginated communities (komunitas imajiner). Nasionalisme Indonesia dalam proses pembentukkannya pun tidaklah sulit.
Terlepas dari bagaimana nasionalisme Indonesia terbentuk, yang jelas, saat ini negeri kita sedang dihadapkan pada persoalan serius menyangkut kedaulatan negara Indonesia. Di sana-sini dengan mudahnya oknum yang tidak berpikir panjang menyuarakan suara-suara separatisme, memiliki napsu untuk memisahkan diri dari NKRI. Nasionalisme kita tidak sekokoh enam puluh dua tahun yang lalu. Hal ini menjadi isyarat bahwa masih banyak entitas-entitas yang merasa belum memiliki ikatan kuat dengan Indonesia.
Salah satu simbol kehormatan yang dimiliki bangsa Indonesia adalah sang saka Merah Putih, bendera dua warna ini memiliki tempat tersendiri di hati rakyat Indonesia. Menghina Merah Putih berarti menghina Indonesia, perasaan serupa juga dirasakan oleh negara-bangsa lain di seluruh penjuru dunia. Maka, tindakan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggunggjawab di beberapa daerah di Indonesia dengan menurunkan bahkan membakar simbol negara layak untuk dikecam dan diberi sanksi sesuai ketentuang undang-undang.
Disamping fenomena separatis yang akhir-akhir ini marak terdengar, persoalan yang juga tidak kalah menariknya adalah bagaimana pandangan anak muda kita melihat bangsa Indonesia dan bagaiaman pula upaya pemerintah dalam melakukan konservasi budaya nasionalisme generasi muda. Sebab suka atau tidak suka, tongkat estapet nasionalisme akan dilanjutkan oleh pemuda Indonesia.
Langkah yang dilakukan Presiden SBY melalui staf kenegaraan dengan mengundang dua Band anak bangsa, Coklat dan Samsons untuk menciptakan video klip kebangsaan yang memiliki kaitan erat dengan momentum nasionalisme sekaligus sebagai penghormatan atas kontingen Garuda yang sedang menjalankan tugas kenegaraan di daerah konflik Timur Tengah dibawah bendera PBB patut diacungi jempol. Pendekatan dengan memanfaatkan ikon anak muda, seperti Band, untuk konteks saat ini sangatlah tepat. Karena nasionalisme bisa datang dari mana saja. Setiap generasi memiliki cara sendiri untuk merefleksikan nilai-nilai nasionalisme. Tinggal bagaimana pemerintah menafsirkan gejala nasionalisme yang terjadi di kalangan anak muda kemudian mengelolanya menjadi nasionalisme ‘aplikatif’, artinya pemerintah harus mengisi ruang-ruang nasionalisme itu dengan hal-hal yang mampu mengarahkan anak muda untuk dapat mencintai warisan sejarah bangsanya.
Sebab, berbicara nasionalisme percuma saja, jika pemerintah sendiri belum mampu sepenuhnya menjaga dan melakukan konservasi atas symbol dan kultur nasionalisme kita. Museum-musem banyak yang tidak terawat sehingga generasi muda enggan untuk mendatanginya; artefak atau warisan kebudayaan lainnya banyak diperjualbelikan oleh oknum-oknum yang dililit oleh kesulitan ekonomi; kurikulum sejarah kita yang masih saja simpang siur, dan lain lain.
Kiranya, dengan dirayakannya ulang tahun kemerdekaan NKRI yang ke enam puluh dua dapat menjadi lokomotif kebangkitan Indonesia, menjadi inspirasi bagi pemerintah untuk terus-menerus membenahi kemerdekaan dan dapat menghadapi segala macam persoalan dengan cara yang lebih bijak dan tentunya dewasa seabagaimana usianya.
April 25, 2007
Seputar “Kebangkitan” Sosialisme-Komunisme
“Lawan Komunisme’ kembali terdengar dalam wacana politik keindonesiaan, beberapa minggu yang lalu media massa nasional marak mengangkat isu ini, lebih-lebih ketika persoalan ini melibatkan beberapa elemen yang tergolong sensitive terhadap isu-isu yang dianggap ‘berbahaya’. Adalah FPI (Front Pembela Islam) sebagai gerakan baru di Indonesia mendeklarasikan kelompok mereka sebagai pengawal syari’at Islam sehingga isu-isu sensitive yang tidak sesuai dengan nilai-nilai syari’at harus dibendung. Kekhawatiran itu terbukti dengan adanya konfrontasi antara FPI dengan PAPERNAS (Partai Peduli Rakyat Nasional) yang dideklarasikan di Jakarta pada tahun … dan di wilayah Yogyakarta pada tahun 2007, ada indikasi bahwa partai ini merupakan kelahiran baru sosialisme-komunisme terstruktur di Indonesia dengan melihat kecenderungan-kecendrungan yang melekat pada eksistensi mereka (dan penulis sendiri belum yakin karena belum mencari bagaimana sebenarnya PAPERNAS sebagai sebuah partai yang dituduh seperti itu dan bagaimana pula relasi ideologis dengan partai komunis sebelumnya, jangan-jangan hanya ‘gosip’ yang dijadikan sebagai ajang untuk mencari popularitas menjelang Pemilu 2009). Konfrontasi antara FPI dengan PAPERNAS di Jakarta tepatnya di sekitar bundaran HI pada Maret lalu tiada lain karena ada semacam kecurigaan yang, bukan hanya datang dari FPI semata, akan tetapi dari seluruh kalangan (masyarakat Indonesia) yang trauma dengan tragedy kebangsaan yang hampir saja menjegal Pancasila dengan menggantikannya dengan ideology ‘komunisme’ pada era tahun enam puluhan.
Terlepas dari perseteruan beberapa pihak yang masing-masing memiliki kepentingan politik, ada baiknya kalau kita melihat perseteruan itu dalam kacamata epistimologis-filosofis karena keberadaan sosialisme dan komunisme (selanjutnya disingkat SosKom) merupakan ideology yang tidak akan pernah lekang di makan waktu, selagi kapitalisme masih ada maka perbincangan tentang SosKom tetap relevan karena ketiga ideology ini memiliki relasi saling mengisi: entah Kapitalisme sebagai antitesis dari SosKom atau sebaliknya, atau bahkan ketiganya dapat melebur menjadi sintesis yang saling melengkapi.
Franz Magnis Suseno memulai pembahasan mengenai komunisme dengan deskripsi yang cukup lihai, “Ada hantu berkeliaran di Eropa, Hantu komunisme” tulis magnis mengutif Manifesto Komunis, sebuah dokumen Marxisme paling masyhur yang ditulis oleh Friedrich Engels dan Karl Marx pada akhir tahun 1847 (Frans Magnis Suseno, 1999: 1). Dan memang saat itu, pada abad ke-20 komunisme merupakan kekuatan idologi politik yang hampir semua negara meniru komunisme, cukup beralasan jika Indonesia pada saat itu juga memiliki hubungan mesra dengan komunisme terbukti dengan adanya Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan pengaruh yang cukup kuat pada penguasaan suara mayoritas melalui tokoh-tokoh nasionalis saat itu. Namun tidak lama setelah kejayaan ideology komunis pada abad ke-20, pada abad yang sama pula, komunisme sebagai ideology politik internasional mendapatkan pukulan berat, dengan kehancuran Partai Komunis Indonesia sebagai buntut kudeta Gerakan 30 September. Sepuluh tahun kemudian, 1975, komunisme mencapai kemenangan terakhir di Vietnam. Namun itu juga merupakan saat kemunduran kekuatan komunisme tidak dapat disembunyikan lagi. Di Eropa Barat, beberapa partai komunis, didahului oleh Partai Komunis Italia, membuang Leninisme, inti sari komunisme, dengan menggantikannya dengan sesuatu yang mereka sebut Euro-komunisme. Di tahun 80-an komunisme dan Marxsisme mulai semakin kelihatan sebagai kekuatan masa lampau yang ketinggalan zaman. Buku-buku Marx, Lenin, dan Mao Tse-dong yang selama tahun 60-an dan 70-an laris manis di pasaran. Sedangkan di Asia dan Afrika perlawanan terhadap ketidakadilan dilawan dengan unsur kesukuan, fanatisme agama sedikit banyak menggeser pengaruh Marxisme dan komunisme.
Dalam perangkat istilah, “Marxisme” tidak sama dengan ‘komunisme’. ‘Komunisme’ yang juga disebut ‘komunisme internasional’ adalah nama ‘gerakan kaum komunis’. Komunisme adalah gerakan dan kekuatan politik partai-partai komunis yang sejak Revolusi Oktober 1917 di bawah pimpinan W.I. Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional. Istilah ‘komunisme’ juga dipakai untuk ‘ajaran komunisme’ atau Marxisme-Leninisme’ yang merupakan ajaran atau ‘ideologi’ resmi komunisme. Sehingga Marxisme merupakan salah satu komponen ideologis komunisme. Dan ada kecenderungan oleh komunisme yang berupaya untuk memonopoli ajaran marxis sebagai satu-satunya pewaris tunggal ideology marxisme, dalam hal ini dikomandoi oleh Lenin.
Bagi Marx komunisme bukanlah kapitalisme negara, dimana hak milik diadminitrasikan oleh negara. Marx mengatakan bahwa hanya pada permulaan, sosialisasi berarti nasionalisasi—jadi negara mengambil hak milik pribadi. Tetapi sesudah kaum kapitalis tidak merupakan ancaman lagi, negara kehilangan fungsinya dan menghilang. Maka pabrik dan tempat produksi lain akan diurus langsung oleh mereka yang bekerja di situ.
Ciri-ciri masyarakat komunis adalah penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi, penghapusan adanya kelas-kelas sosial, menghilangnya negara, penghapusan pembagian kerja. Kelas-kelas tidak perlu dihapus secara khusus sesudah kelas kapitalis ditiadakan karena kapitalisme sendiri sudah menghapus semua kelas, sehingga hanya tinggal proletariat. Itulah sebabnya revolusi sosialis tidak akan menghasilkan masyarakat dengan kelas atas dan kelas bawah lagi. Komunisme juga terbagi menjadi tiga kubu: revisionis, ortodoks, dan revolusioner. Masing-masing kubu merupakan penjelmaan dari penafsiran atas ajaran-ajaran Marx.
Begitu juga dengan sosialisme yang pertama kali sebagai impuls filosofis dan etis, tapi jauh sebelum Marx sosialisme mulai tampil sebagai doktrin ekonomi. Tetapi Marx lah yang melengkapi sosialisme dengan teori ekonomi yang lengkap dan terperinci.
Seperti yang disebutkan diatas, sosialisme-komunisme merupakan dua term yang saling berdekatan dalam menyebarkan pengaruhnya di seluruh penjuru dunia. Thomas Kuhn menafsirkan paradigma manusia akan terus berubah secara revolusioner, maka ideology akan di anut secara sadar oleh sebuah komunitas masyarakat/negara (penguasa) jika melihat ideology itu menjanjikan dan mampu menjawab persoalan-persoalan kebangsaan. Oleh karena itu, kedua ideology yang penulis bahas ini memang sedang menjadi hantu gentayangan yang tidak jelas ke arah mana akan melangkah karena seperti yang ditulis I Wibowo, seorang pakar studi China menggambarkan bagaimana yang terjadi saat ini di negara yang konon masih mengabdi pada peradaban komunisme itu, bahwa di China saat ini komunisme hanyalah sebuah pajangan yang diletakkan di atas dinding-dinding konstitusi mereka, namun dalam prakteknya mereka adalah bangsa yang berusaha menjadi ‘kapitalisme bermoral’ dalam membangun masyarakat—terutama masyarakat pedesaan—(I Wibowo: 1999).
Sehingga persoalan yang menyangkut ideology apapun, kapanpun dan dari manapun adalah merupakan bagian dari kreasi manusia untuk menjadikannya sebagai pandangan hidup yang menyesuaikan diri dengan kultur masyarakat setempat, Undang Undang yang dimiliki Indonesia pun kalau dilihat dari prinsipnya cenderung kearah sosialisme dan tidak terlepas dari peran Hatta, Sukarno, Sjahrir dan tokoh nasional lainnya [M. Sya’roni, e-mail: ich_kabari@yahoo.com].
References :
Franz Magnis Susesno, Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Henry J. Schmandt, A History of Political Phylosophy, tej. Ahmad Baidowi, Yogyatakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Antony Giddens, The Third Way The Renewal of Social Democracy, terj. Ketut Arya Mahardika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.
I Wibowo, Kompas, 1999.
Terlepas dari perseteruan beberapa pihak yang masing-masing memiliki kepentingan politik, ada baiknya kalau kita melihat perseteruan itu dalam kacamata epistimologis-filosofis karena keberadaan sosialisme dan komunisme (selanjutnya disingkat SosKom) merupakan ideology yang tidak akan pernah lekang di makan waktu, selagi kapitalisme masih ada maka perbincangan tentang SosKom tetap relevan karena ketiga ideology ini memiliki relasi saling mengisi: entah Kapitalisme sebagai antitesis dari SosKom atau sebaliknya, atau bahkan ketiganya dapat melebur menjadi sintesis yang saling melengkapi.
Franz Magnis Suseno memulai pembahasan mengenai komunisme dengan deskripsi yang cukup lihai, “Ada hantu berkeliaran di Eropa, Hantu komunisme” tulis magnis mengutif Manifesto Komunis, sebuah dokumen Marxisme paling masyhur yang ditulis oleh Friedrich Engels dan Karl Marx pada akhir tahun 1847 (Frans Magnis Suseno, 1999: 1). Dan memang saat itu, pada abad ke-20 komunisme merupakan kekuatan idologi politik yang hampir semua negara meniru komunisme, cukup beralasan jika Indonesia pada saat itu juga memiliki hubungan mesra dengan komunisme terbukti dengan adanya Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan pengaruh yang cukup kuat pada penguasaan suara mayoritas melalui tokoh-tokoh nasionalis saat itu. Namun tidak lama setelah kejayaan ideology komunis pada abad ke-20, pada abad yang sama pula, komunisme sebagai ideology politik internasional mendapatkan pukulan berat, dengan kehancuran Partai Komunis Indonesia sebagai buntut kudeta Gerakan 30 September. Sepuluh tahun kemudian, 1975, komunisme mencapai kemenangan terakhir di Vietnam. Namun itu juga merupakan saat kemunduran kekuatan komunisme tidak dapat disembunyikan lagi. Di Eropa Barat, beberapa partai komunis, didahului oleh Partai Komunis Italia, membuang Leninisme, inti sari komunisme, dengan menggantikannya dengan sesuatu yang mereka sebut Euro-komunisme. Di tahun 80-an komunisme dan Marxsisme mulai semakin kelihatan sebagai kekuatan masa lampau yang ketinggalan zaman. Buku-buku Marx, Lenin, dan Mao Tse-dong yang selama tahun 60-an dan 70-an laris manis di pasaran. Sedangkan di Asia dan Afrika perlawanan terhadap ketidakadilan dilawan dengan unsur kesukuan, fanatisme agama sedikit banyak menggeser pengaruh Marxisme dan komunisme.
Dalam perangkat istilah, “Marxisme” tidak sama dengan ‘komunisme’. ‘Komunisme’ yang juga disebut ‘komunisme internasional’ adalah nama ‘gerakan kaum komunis’. Komunisme adalah gerakan dan kekuatan politik partai-partai komunis yang sejak Revolusi Oktober 1917 di bawah pimpinan W.I. Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional. Istilah ‘komunisme’ juga dipakai untuk ‘ajaran komunisme’ atau Marxisme-Leninisme’ yang merupakan ajaran atau ‘ideologi’ resmi komunisme. Sehingga Marxisme merupakan salah satu komponen ideologis komunisme. Dan ada kecenderungan oleh komunisme yang berupaya untuk memonopoli ajaran marxis sebagai satu-satunya pewaris tunggal ideology marxisme, dalam hal ini dikomandoi oleh Lenin.
Bagi Marx komunisme bukanlah kapitalisme negara, dimana hak milik diadminitrasikan oleh negara. Marx mengatakan bahwa hanya pada permulaan, sosialisasi berarti nasionalisasi—jadi negara mengambil hak milik pribadi. Tetapi sesudah kaum kapitalis tidak merupakan ancaman lagi, negara kehilangan fungsinya dan menghilang. Maka pabrik dan tempat produksi lain akan diurus langsung oleh mereka yang bekerja di situ.
Ciri-ciri masyarakat komunis adalah penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi, penghapusan adanya kelas-kelas sosial, menghilangnya negara, penghapusan pembagian kerja. Kelas-kelas tidak perlu dihapus secara khusus sesudah kelas kapitalis ditiadakan karena kapitalisme sendiri sudah menghapus semua kelas, sehingga hanya tinggal proletariat. Itulah sebabnya revolusi sosialis tidak akan menghasilkan masyarakat dengan kelas atas dan kelas bawah lagi. Komunisme juga terbagi menjadi tiga kubu: revisionis, ortodoks, dan revolusioner. Masing-masing kubu merupakan penjelmaan dari penafsiran atas ajaran-ajaran Marx.
Begitu juga dengan sosialisme yang pertama kali sebagai impuls filosofis dan etis, tapi jauh sebelum Marx sosialisme mulai tampil sebagai doktrin ekonomi. Tetapi Marx lah yang melengkapi sosialisme dengan teori ekonomi yang lengkap dan terperinci.
Seperti yang disebutkan diatas, sosialisme-komunisme merupakan dua term yang saling berdekatan dalam menyebarkan pengaruhnya di seluruh penjuru dunia. Thomas Kuhn menafsirkan paradigma manusia akan terus berubah secara revolusioner, maka ideology akan di anut secara sadar oleh sebuah komunitas masyarakat/negara (penguasa) jika melihat ideology itu menjanjikan dan mampu menjawab persoalan-persoalan kebangsaan. Oleh karena itu, kedua ideology yang penulis bahas ini memang sedang menjadi hantu gentayangan yang tidak jelas ke arah mana akan melangkah karena seperti yang ditulis I Wibowo, seorang pakar studi China menggambarkan bagaimana yang terjadi saat ini di negara yang konon masih mengabdi pada peradaban komunisme itu, bahwa di China saat ini komunisme hanyalah sebuah pajangan yang diletakkan di atas dinding-dinding konstitusi mereka, namun dalam prakteknya mereka adalah bangsa yang berusaha menjadi ‘kapitalisme bermoral’ dalam membangun masyarakat—terutama masyarakat pedesaan—(I Wibowo: 1999).
Sehingga persoalan yang menyangkut ideology apapun, kapanpun dan dari manapun adalah merupakan bagian dari kreasi manusia untuk menjadikannya sebagai pandangan hidup yang menyesuaikan diri dengan kultur masyarakat setempat, Undang Undang yang dimiliki Indonesia pun kalau dilihat dari prinsipnya cenderung kearah sosialisme dan tidak terlepas dari peran Hatta, Sukarno, Sjahrir dan tokoh nasional lainnya [M. Sya’roni, e-mail: ich_kabari@yahoo.com].
References :
Franz Magnis Susesno, Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Henry J. Schmandt, A History of Political Phylosophy, tej. Ahmad Baidowi, Yogyatakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Antony Giddens, The Third Way The Renewal of Social Democracy, terj. Ketut Arya Mahardika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.
I Wibowo, Kompas, 1999.
Subscribe to:
Posts (Atom)